Tarmizi Taher, ‘Masjid Pusat Pembinaan Ekonomi Umat’
By Republika Newsroom
Jumat, 26 Desember 2008

Selama tiga hari, Jumat-Ahad, 25-27 Agustus 2006, Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) menggelar Muktamar V di Hotel Grand Cempaka Cempaka Putih Jakarta Pusat. Selain merancang program baru serta melaporkan kegitan pengurus lama, Muktamar V DMI juga berhasil memilih ketua umum DMI yang baru untuk masa periode 206-2011. Mantan Menteri Agama di era Presiden HM Soeharto yang juga dikenal sebagai pendiri Center for Moderate Muslim (CMM), Dr Tarmizi Taher, akhirnya terpilih untuk memimpin DMI periode ini.

Kepada Damanhuri Zuhri dari Republika, Tarmizi melontarkan ide dan gagasan tentang kemana gerbong DMI akan dibawa. ”Di masjid itu kita jadikan sentral dari pembinaan agama, pembinaan iman, pembinaan ibadah, pembinaan ekonomi, dan pendidikan,” ujarnya memberi bocoran program kerjanya. Berikut ini petikan wawancaranya:

Apa peran masjid ke depan menurut Anda?

Kita akan membawa masjid berfungsi sebagaimana seharusnya berfungsi. Masjid itu sentral dari pembinaan agama, pembinaan iman, pembenahan idadah, pembinaan ekonomi, dan pendidikan. Masjid bukan hanya untuk ibadah saja.
Masjid itu di dalam hadis adalah baitut taqwa (rumah untuk mencetak diri agar bertakwa). Banyak jaminan Tuhan kepada orang yang hatinya terpaut ke masjid. Tapi, untuk melaksanakan agar orang hatinya tergantung ke masjid, jelas tidak gampang pada zaman globalisasi ini. Makanya kita sebagai pengurus, pembimbing, dan pemimpin umat Islam mesti yakin bahwa ayat-ayat langit ini masih sangat kita gunakan. Kita masih cinta kepada agama, kita cinta kepada Nabi kita menyembah hanya kepada Allah.

Bentuk kongkrit kegiatan yang dilakukan agar masjid benar-benar menjadi sentral pembinaan ekonomi umat seperti apa?

Ya misalnya dengan membuka BMT (baitul maal wat tamwil) di masjid-masjid, sehingga peredaran uang termasuk dari dana infak dan shadaqah setiap Jumat maupun dana zakat lainnya bisa digerakkan di BMT. Dengan adanya kegiatan BMT yang lebih besar lagi, para pedagang kecil yang ada di sekitar masjid bisa digerakkan. Kalau semangat ini sudah berjalan, bukan tidak mungkin ekonomi masyarakat akan bergerak. Dan, dampaknya kepada masjid sendiri. Ekonomi masyarakat yang bergerak akan mendorong mereka untuk berinfak atau berzakat ke masjid. Yang tidak kalah pentingnya, dalam manajemen modern, pengurus masjid seharusnya tidak memegang uang cash melainkan menyimpannya di bank-bank maupun lembaga keuangan lainnya. Begitu memerlukan dana, mereka tinggal mengambilnya melalui cek. Jadi, manajemennya sangat teratur.

Dalam pengamatan Anda, apakah peran masjid selama ini sudah optimal terutama di bidang ekonomi?

Masjid itu kan mestinya kita rencanakan programnya selama 52 minggu. Kalau kita bikin lima tahun, 260 kali. Kita mesti bagi-bagi. Di mana porsinya iman? Di mana porsinya ibadah? Selain itu, mana fungsinya shalat, mana fungsinya puasa, fungsinya zakat, fungsinya ibadah haji? Yang tidak boleh kita lupakan, doa kita kan mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat. Apa yang dunia? kaadal faqru an-yakuuna kufran (kemiskinan itu hampir menyebabkan kekafiran).
Oleh karena itu, manajemen masjid juga harus membahas masalah ekonomi. Masjid harus membuat ketrampilan sehingga ekonomi umat Islam terutama yang berada di sekitar masjid akan meningkat. Menjaga umat agar tak menjadi kafir dengan menghindarkan mereka dari kemiskinan, merupakan peran penting yang harus diambil para pengurus masjid.
Rasulullah SAW tidak hanya melakukan ibadah shalat di dalam masjid bahkan menerima diplomat pun di dalam masjid. Nabi menerima diplomat di masjid. Nabi menasehati orang di masjid. Jadi segala macam hal yang kita anggap dunia katakanlah ekonomi, dilakukan di dalam masjid. Bagaimana kita mau naik haji, kalau kita tidak punya duit? Ekonomi terkait dengan ibadah, bagaimana kita akan berpakaian dengan baik, kalau ekonomi kita tidak baik? Sudah tidak jamannya lagi umat Islam terus meminta-minta. Duit masjid harus disimpan di bank. Kalau mau digunakan pakai cek. Ini soal manajemen.

Ke depan menurut Anda, apa problem yang paling besar yang harus dibereskan dari masjid?

Manajemennya. Manajemen masjid secara modern. Bahwa di negara Barat, manajemen gereja diatur oleh mereka secara modern dengan beralatkan komputer, punya website, e-mail. Kita gunakan itu sebagai alat dakwah. Sehingga orang-orang yang menjelek-jelekan Islam kita bisa hadapi dengan sarana modern ini.

Jadi, kita membuat network antara masjid ini akrab. Dukung-mendukung, kita sebarkan khotbah-khotbah melalui e-mail, web site, perkembangan Islam teratur melalui teknologi modern. Kita gunakan juga masjid untuk mempersiapkan anak-anak kita menghadapi ujian akhir.

Ada kemungkinan ke depan DMI dibawa ke tingkat internasional?

Tentu saja. Justru pro aktif kita yang mendatangi mereka. Paling tidak kita akan menjalin dengan negeri jiran seperti Malaysia, Singapura, bahkan dengan Australia, Selandia Baru, dengan mengirim dai.

Tidak repot mengelola 700 ribu masjid?

Kita akan mengadakan otonomi daerah kepada masjid-masjid itu.

Bentuk konkritnya?

Kita di Indonesia ini semuanya terlampau tersentral, semua ada di pusat. Kasihan presiden. Semua peserta demonstrasi minta ketemu presiden. Jadi, negara ini pemimpinnya hanya presiden. Berarti menteri-menteri yang lain kerja apa? Jadi, seharusnya di daerah-daerah kepala daerahnya yang bertanggung jawab. Pengelolaan masjid juga begitu. Kita akan galakkan back to mosque (mari kita kembali ke masjid). Kita akan membina umat menjadi manusia yang bertakwa di masjid. Kita akan membina umat menjadi manusia yang berdaya secara ekonomi juga di masjid.

http://www.republika.co.id/berita/22760/Tarmizi_Taher_Masjid_Pusat_Pembinaan_Ekonomi_Umat