Pembeda Orang Muslim dan Munafik

Keutamaan shalat shubuh, banyak dijelaskan Rasulullah SAW dalam berbagai hadisnya. Bahkan, dalam sebuah hadisnya ia menyebutkan bila umat Islam mengetahui bagaimana istimewanya shalat shubuh, maka mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak.

Sayangnya, masjid sering kosong bila shalat shubuh. Sangat kontras dengan  waktu-waktu lainnya apalagi dibandingkan dengan jamaah shalat Jumat. ”Shalat shubuh itu shalat istimewa bagi umat Islam walaupun semua shalat lima waktu itu wajib. Nabi Muhammad SAW yang mengatakan perbedaan orang muslim dengan munafik adalah menghadiri shalat berjamaah shubuh,” ujar Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (IKADI) yang juga Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr Ahmad Satori. Kepada Damanhuri Zuhri dari Republika, Senin (19/3), dia bertutur mengenai keistimewaan shalat shubuh dan upaya-upaya yang harus dilakukan agar umat Islam rajin shalat shubuh berjamaah.
Berikut petikannya:

Bagaimana kedudukan shalat Shubuh dalam Islam?

Shalat subuh itu shalat istimewa bagi umat Islam walapun semua shalat lima waktu itu wajib tetapi kewajiban untuk shalat Subuh apalagi berjamaah lebih istimewa karena ada hadis-hadis yang menyebutkan seperti, ”Barangsiapa yang shalat Subuh maka dia berada di dalam lindungan Allah SWT.” Berarti kalau orang shalat Subuhnya berjamaah pada waktu itu dia akan mendapat lindungan dari Allah, dia pagi-pagi sudah keluar rumah mendapatkan udara segar, dia jalan menuju masjid sudah olahraga, dan sudah bertemu dengan sudara-saudaranya, berjabat tangan, silaturahim, pagi hari sudah dimulai dari itu. Oleh sebab itu shalat Subuh memang bagi umat Islam sangat istimewa. Apalagi ada hadis yang mengatakan perbedaan orang muslim dengan orang munafik adalah menghadiri shalat berjamaah Subuh. Kualitas keimanan seseorang bisa dilihat dari sejauh mana shalat Subuhnya itu.

Tapi mengapa shalat Subuh “kalah pamor” ketimbang shalat Jumat, misalnya, sehingga jamaah Subuh selalu berbilang jari?

Karena kurangnya pemahaman. Padahal seseorang yang shalat Subuh berarti dia sudah menang dari setan. Seseorang yang tidur tidak membaca doa itu dikencingi setan. Maka, untuk menghilangkan pengaruh dari kencing setan itu pertama, dia bangun kemudian berdoa, Alhamdulillahillazi ahyana ba’dama amatana wailaihinnusyur. (Segala puji bagi Allah yang telah membangunkan kami dari tidur dan kepada-Nyalah segala sesuatu akan kembali). Itu satu simpul setan akan hilang. Kemudian disambung dengan mengambil air wudu, hilang satu lagi. Kemudian dia ketika niat shalat Allahu Akbar ketika takbiratul ihram maka simpulnya akan hilang semua. Maka terlepas dari godaan setan, itu intinya.

Di sinilah perbedaan antara mukmin yang imannya mantap dengan mukmin yang di dalam dirinya ada kemunafikan. Itu sebagai ukuran shalat Subuh. Betul kalau kata umat lain seandainya umat Islam itu shalat Subuhnya seperti shalat Jumat, hebat sekali. Kalau saya perhatikan hampir-hampir orang Islam itu yang sehari-hari tidak melaksanakan shalat tapi ketika JUmat dia pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat Jumat.

Kalau shalat Subuh benar-benar dilaksanakan oleh umat Islam akan memiliki kekuatan yang dahsyat, ya?
Dahsyat. Karena waktu Subuh adalah waktu yang sangat mahal. Mengapa dikatakan mahal? Dikatakan juga dalam hadis kalau tidur sesudah shalat Subuh itu bisa menjadikan kita fakir. Dan bisa kelihatan orang yang shalat Subuh dengan orang yang tidak shalat Subuh. Orang yang shalat Subuh itu pagi harinya cerah kemudian banyak doa-doa yang perlu dibaca setelah shalat Subuh. ”Barangsiapa setelah shalat Subuh membaca doa tertentu seperti Ayat Kursi atau Sayyidul Istigfar akan mendapatkan jaminan bahwa dia kelak meninggal dalam keadaan khusnul khatimah.” Jadi, shalat Subuh banyak sekali keutamannya.

Adakah keinginan dari IKADI untuk menggerakkan para dai daerah-daerah agar budaya shalat shubuh bisa dibangkitkan?

Kami dari IKADI meminta setiap daerah yang ada di 26 provinsi itu agar menggerakkan semua umat ini untuk rajin berjamaah. Sip, mantap! Khusus yang shalat Jamaah Subuh. Kalau bisa mengadakan pengajian setelah shalat Subuh minimal pada hari Ahad atau Sabtu sampai matahari terbit. Sebab kata Rasulullah SAW, ”Barangsiapa shalat Subuh berjamaah di masjid kemudian dia zikir lalu mendengarkan pengajian sampai terbit matahari kemudian setelah terbit matahari dia shalat dua rakaat maka dia mendapatkan pahala seperti haji secara sempurna. Itu keutamaan shalat Subuh yang tidak didapat pada shalat-shalat lain.

Tetapi mengapa shalat Subuhnya hanya dua rakaat. Apa sebenarnya makna di balik itu?

Mengapa cuma dua rakaat? Dua itu kondisinya kita disunahkan ayatnya agak panjang. Supaya tadabburnya lebih. kemudian shalat itu sebenarnya di samping untuk beribadah kepada Allah, punya makna kesehatan jasmani. Nah, ketika orang shalat Subuh malamnya baru istirahat, tidak bekerja, kondisi otak fresh karena baru terlentang, suplay darah segar cukup banyak. Ketika shalat Subuh tidak usah panjang-panjang seperti shalat Zuhur empat rakaat karena ketika Subuh itu orang baru istirahat. Berbeda dengan shalat Zuhur, ditambah Qobliyah empat rakaat dan Ba’diyah empat rakaat, ada yang muakkad (ditekankan) dan gairu muakad (Tidak ditekankan). Hal ini untuk mengimbangi dari pagi sampai siang dia duduk atau berdiri yang mana ketika itu suplay darah ke otak berkurang. Maka perlu sujudnya cukup banyak, rukunya banyak.

http://gerakansubuhmassal.multiply.com/journal/item/9/Pembeda_Orang_Muslim_dan_Munafik