M A S J I D Yiihaaa!

Rangkaian peristiwa Isra’ dan Mi’raj dimulai dari masjid ke masjid. Memperingati peristiwa ini seharusnya mendorong kaum muslimin mengorientasikan dirinya ke masjid, ikut memakmurkan tempat ibadah itu dengan menjadi jamaah yang aktif. Dalam risalah Islam, ‘masjid’ memang mempunyai fungsi dan peranan tertentu yang melambangkan masyarakat Islam bukan perseorangan yang tanpa ikatan. Masjid melambangkan Islam sebagai Agama ‘jamaah’. Idealnya bukan hanya dalam shalat, tetapi di luar shalat juga berlangsung hidup berjamaah.

Artinya, masjid bukan sekadar untuk shalat berjamaah, fungsi masjid lebih luas dari itu. Hal ini dapat dimengerti dari tindakan Rasulullah sesampainya di Masjidil Haram sepulang Mi’raj untuk mengajak masyarakat meyakini kebenaran perjalanannya. Atau ketika Nabi sampai di Yatsrib sewaktu hijrah.

Pertama kali yang beliau bangun adalah mendirikan masjid. Dari masjid itulah masyarakat Islam disusun, nilai-nilai Islam dihidupkan dan dilembagakan dalam kehidupan bersama. Fungsi masjid yang demikian itu lebih ditegaskan di masa Khalifah Abu Bakar, bahkan disertai pesan, ”Jika sekiranya datang cengkeraman dari pihak yang batil dan timbul perlawanan dari pihak yang hak (perlawanan yang tidak akan sia-sia lantaran kebajikannya), maka di kala itu, di masjidlah tempat kamu menetap dan dari Alquranlah kamu mencari petunjuk.” (Pidato Khalifah Abu Bakar). Bagi Khalifah Abu Bakar, masjid harus difungsikan sebagai pusat ‘reintegrasi umat’.

Di negeri kita ini, citra kemajuan umat baru ditandai oleh banyaknya bangunan fisik masjid. Itu saja tentu belum cukup. Masjid yang benar-benar makmur (difungsikan sebagaimana seharusnya) masih bisa dihitung dengan jari. Banyak masjid baru berfungsi pada saat shalat Jumat berlangsung. Hmmm Kadang-kadang keberadaan masjid malah tidak bersambung dengan kehidupan riel masyarakat tetangga masjid, sehingga ia ibarat Kuburan Cina yang pakai marmer berukir tapi tak bernyawa di dalamnya. Hmmm

Untuk itu sudah saatnya dimunculkan gerakan cinta masjid yang diprogram secara nasional. Kalau perlu melalui Keppres agar lebih efektif. Dan ini bukan tidak mungkin, mengingat kepeloporan Presiden Soeharto dalam membangun ribuan masjid menghendaki tindak lanjut usaha pemakmurannya. Secara tradisi pun pernah berlangsung dalam tata kota kekuasaan di Jawa dalam lambang menyatunya Masjid, Keraton, dan Alun-alun. Firman Allah: Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat dan tidak merasa takut melainkan kepada Allah; mudah-mudahan mereka itu makin terpimpin kepada kebenaran.” (QS At-Taubah: 18).

Dengan gerakan yang bersifat nasional Yess!, pemakmuran masjid akan mampu menyentuh bukan saja pada aktivitas ibadah shalat berjamaah, melainkan juga dapat kita harapkan masjid akan mampu menjadi sentra pembinaan umat baik keimanan dan ketaqwaannya maupun kehidupan sosial ekonominya. Gerakan koperasi, misalnya, dapat lebih dipercepat perkembangannya melalui masjid-masjid. Wallahu A’lam.

sumber: republika
http://www.republika.co.id/berita/60722/Masjid

Jadikan Masjid Tempat Memberdayakan Umat

PEMBERDAYAAN masjid selama ini kurang begitu diperhatikan. Padahal, masjid pun mempunyai peran penting dalam membangun kesejahteraan masyarakat. Selama ini peran masjid hanya sebatas tempat beribadah. Jika masjid di Kota Bogor berdaya, maka masyarakatnya akan sejahtera.

Karena itu perlu ada upaya untuk menjadikan masjid-masjid yang ada di Kota Bogor sebagai masjid pemberdayaan umat. Artinya, masjid yang bisa meningkatkan kualitas ritual ibadah, dan meningkatkan potensi ibadah muamalah.

Ketua wilayah DMI Jawa Barat H. R. Maulani mengatakan, masjid harus tempat jihad sosial. Sebab, misi masjid yaitu hayyaa`lasholah dan hayya`alal falah. Artinya melalui masjid, meningkatkan kualitas ibadah ritual dan melalui masjid pula untuk meraih kemenangan dalam membebaskan kemiskinan, kebodohan dan kedangkalan Iman.

“Kalau masjid-masjid yang ada sudah menjadi masjid pemberdayaan umat, yang berorientasi kepada IPM (Indek Pembangunan Manusia), maka insya Allah masyarakat Kota Bogor akan sejahtera,” ungkap Maulani ketika melantik dan mengukuhkan pengurus DMI Kota Bogor masa bakti 2009-2014 di Masjid Raya Bogor Jum`at (27/3) siang.

Menurut Maulani, kalau masjid dikelola dengan baik, maka akan menjadi suatu kekuatan, untuk meningkatkan IPM dari berbasis masjid. Karena itu DMI harus bisa menuntaskan dan memberdayakan jaringan DMI sampai ke tingkat ranting-ranting yang ada di Kelurahan, untuk mendorong masjid-masjid yang ada sebagai basis pemberdayaan umat dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

700 masjid

Wali Kota Bogor Diani Budiarto mengatakan, peran DMI dalam pengelola masjid memiliki tugas yang cukup berat, karena jumlah masjid yang ada di Kota ada sekitar 700 masjid belum termasuk musala. “Di Kota Bogor ada 700 masjid. Kalau apa yang diungkapkan Ketua DMI Jawa Barat tadi direalisasikan, tentunya akan membantu pemkot dalam upaya pengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan umat,” tutur Diani.

Diani pun mengutarakan hasil kunjungannya ke Istambul Turki beberapa waktu lalu. Ternyata, kata dia, negara Turki dengan jumlah penduduk sekitar 15 juta, masjidnya hanya berjumlah 2.600 masjid, dan gereja berjumlah 200.

“Kalau dibandingkan dengan Kota Bogor yang berpenduduk hampir satu juta jumlah masjidnya sudah mencapai 700 masjid. Sedangkan Turki dengan penduduk 15 juta, hanya ada 2.600 masjid. Jadi, jelas, kalau melihat dari perbandingan dengan jumlah penduduknya masjid di Kota Bogor sudah cukup banyak,” ungkap Diani.

Oleh karena itu, lanjut Diani, dengan jumlah masjid yang sudah banyak menjadi garapan yang sangat berat bagi DMI untuk menyamakan konsep dan persepsi sehingga masjid ukhwah dan pusat syiar Islam.

“Sejak tahun 2004, di Kota Bogor sudah dicanangkan program Imaratul Masajid atau pemberdayaan masjid, dengah berbagai langkah yang telah dilakukannya,” jelasnya.

Menurut Diani, langkah yang telah dilakukan selama lima tahun dalam program pemberdayaan masjid antara lain telah mengirimkan pelatikan-pelatihan para pengurus DKM, dan memberangkatkan para imam masjid untuk melaksanakan ibadah haji.

Namun diakui Diani, belum sepenuhnya membuahkan hasil yang diharapkan. Oleh karena itu menjadi tugas DMI untuk lebih meningkatkan peran-peran masjid. “Kita juga sudah memiliki program masjid online, dan sampai saat ini sudah 51 masjid yang online. Walaupun, diakuinya bahwa dari 51 masjid online belum memanfaatkan sarana yang ada, karena hal keterbatasan dari sumber daya manusianya,” jelasnya. (PK-3)***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com

Sukseskan Gerakan Back To Masjid … « 1 2 3 4 »

Sukseskan Gerakan Back To Masjid … « 1 2 3 4 »