Ketua MUI: Hampir Semua Masjid Mubadzir
By Republika

MALANG – Ketua Majelis Ulama Islam (MUI) KH Kholil Ridwan menilai hampir semua masjid yang ada di Indonesia mubadzir. Penilaian tersebut disampaikan KH Kholil Ridwan ketika Peresmian Masjid Baitur Rohman dan Silaturahmi dengan Para Mualaf Bromo, Muslim Lereng Gunung Semeru, Kawi-Bromo serta minuritas Muslim Pinewen, Kabupaten Malang, yang digelar Yayasan Mujahidin di Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malangm, Jawa Timur Ahad (16/11).

”Kita harus menyadari bahwa banyak masjid di Indonesia yang mubadzir. Padahal, orang yang senang  terhadap barang-barang  mubadzir itu berarti temannya setan,” jelas KH Kholil Ridwan kepada Republika. Lantas dia menjelaskan indikator masjid-masjid yang dinilai mubadzir. Menurut dia, masjid yang mubadzir itu sepi kegiatan. Terutama, ketika melaksanakan sholat lima waktu. Selama ini, kata dia, masjid yang dipakai untuk melaksanakan ibadah sholat lima waktu itu ratarata hanya berisi dua shof saja.

Sementara pada waktu-waktu selain pelaksanaan ibadah sholat lima waktu sepi. Hanya pada saat hari Jum’at, ketika orang muslim menunaikan ibadah sholat jum’at saja masjid terisi penuh. ”Selebihnya, kan tidak. Itu berarti mubadzir,” jelasnya. Kondisi masjid yang semacam itu, kata dia,  dialami hampir seluruh masjid yang ada di Indonesia. Menurut dia, tidak hanya di desa, tapi kota juga banyak yang sepi kegiatan. Bahkan, saat pelaksanaan ibadah sholat lima waktu, hanya  terisi rata-rata dua shof.

Menurut dia, ketika jaman Nabi Muhammad SAW, jika ada masjid yang mubadzir karena tidak termanfaatkan secara optimal, langsung dibakar. Bahkan, Nabi Muhammad sendiri yang memimpin untuk melakukan pembakaran terhadap masjid yang dinilai mubadzir itu. Makanya, kata dia menceritakan ketika jaman Nabi Muhammad, tidak ada masjid yang mubadzir. Hampir semua masjid terisi penuh, terutama ketika masuk waktu sholat. Selain it, masjid juga dijadikan sebagai pusat dakwah, pusat kegiatan termasuk ekonomi. Sehingga, masjid itu juga dijadikan sebagai pusat bisnis atau pasar.

Agar masjid di Indonesia yang jumlahnya jutaan tidak mubadzir, terang dia,  harus diisi dengan berbagai kegiatan. Dia contohan, seperti mernjadikan masjid sebagai pusat kegiatan islam (Islamic Center). Sehingga, tidak menjadi temannya iblis.

”Mari kita kembali ke masjid. Jadikan masjid sebagai islamic center. Tinggalkan itu Senayan. Sebab, kalau tidak kembali ke Masjid, tunggulah kehancurannya. Kalau perlu, bangun pasar, rumah sakit  dan lain sebagainya di dekat masjid. Sehingga, masjid benar-benar menjadi pusat kegiatan umat Islam,” jelasnya sembari menambahkan bila MUI akan menggalakkan sosialisa untuk kembali ke masjid.

Hal senada juga diungkapkan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Ustad Ir Andri Kurniawan Mag. Menurut Ketua Yayasan Mujahidin ini, selama ini memang banyak masjid yang mubadzir. Alasannya, masjid tidak lagi dijadikan sebagai pusat kegiatan dakwah.

Makanya, dia berjanji akan memakmurkan masjid Baitur Rohman yang dibangun di Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang itu. ”Masjid ini nantinya akan menjadi markas dakwah meskipun lokasinya tidak dekat dengan pemukiman warga,” katanya. Dia optimistis, masjid yang dibangun di atas lahan seluas 650 meter per segi untuk membentengi umat dari program agama lain ini bakal makmur. Alasannya, setelah dijadikan markas dakwah, banyak agenda kerja yang bakal digarap melalui masjid tersebut.

Di antara proyek dakwah itu dia sebutkan seperti pembinaan panti asuhan dan pembinaan muslim minoritas di Pinewen, pembinaan mini islamic snter di Kalipare, lereng gunung Semeru, Kawi dan Bromo. Selain itu, menjadi pusat pemibinaan Ponpes Mahasiswa sebagai pembina di Jalan Sigura-gura Malang, selain panti asuhan Arrohmah. Menurut dia, kalau markas dakwah itu sukses, ”Insyaa Allah Taman umat islam akan terbentengi dari berbagai upaya pemurtadan. Cita-cita kami  umat islam menjadi umat yang  madani, mawaddah wa rahmah lewat masjid. Amin,” jelasnya.

http://www.republika.co.id/berita/29924/Ketua_MUI_Hampir_Semua_Masjid_Mubadzir