Video RAKER DMI Kota Bogor 8 Agustus 2009

RAKER



Preview & Donwload “dmibogorbarat.Multiply.com”raker1

raker2

Hari Ini (8-8-2009) Raker Dewan Masjid Indonesia

PAJAJARANMasjid sebagai pusat kegiatan keagamaan bisa menjadi solusi umat untuk bangkit dari keterpurukan. Sebut saja pada zaman Rasulullah SAW, ketika hijrah dari Mekah menuju Madinah untuk menegakkan agama Islam, dilakukan dengan membangun masjid. Nabi mempunyai tujuan untuk memberdayakan masyarakat serta meningkatkan martabat kemanusiaan yang bebas dari kemiskinan rohani dan materi.

Bukti sejarah itulah yang tidak dapat dipungkiri, menjadi kebangkitan umat Islam menuju peradaban Madinah yang cepat maju. Nah, semangat kebersamaan itu berawal dari masjid sehingga menjadikan umat Islam di zaman Nabi Muhammad SAW maju.

Saat ini, fungsi masjid sebagai pusat pembinaan dan pemberdayaan umat Islam telah melemah

karena beberapa faktor, antara lain

  • keterbatasan pemahaman muslim terhadap masjid,
  • komunikasi jaringan masjid,
  • program masjid kurang menyentuh pemberdayaan umat,
  • belum adanya konsep pengembangan percontohan masjid
  • dan lemahnya sumber daya manusia di masjid.

Itu pulalah, yang menjadi tujuan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Bogor menyelenggarakan rapat kerja (raker) hari ini, di Ruang Rapat 1 Balaikota. Ketua DMI Bogor Ade Syarmili mengatakan, agenda dalam raker yaitu membahas kekurangan yang dimiliki masjid. “Saat ini, tantangan yang dihadapi pengurus adalah bagaimana memfungsikan kembali masjid,” ujarnya.

Berkaitan dengan kekurangan yang harus dibenahi masjid tersebut, DMI melakukan terobosan dengan mengembangkan model masjid pemberdayaan umat melalui arah yang jelas. “Bagaimana mewujudkan masjid yang berimbas kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” terangnya.

Dengan penyelenggaraan raker DMI pertama ini, kata Ade, diharapkan akan mewujudkan masjid sebagai pemberdayaan umat dan dukungan terhadap keberhasilan pencapaian visi Kota Bogor dalam meningkatkan kesejahteraan umat serta masyarakat. (**/rur)

(Redaksi)

Video Pelantikan Pengurus DMI Kec.Bogor Barat





Preview & Donwload “dmibogorbarat.Multiply.com”

M A S J I D

M A S J I D Yiihaaa!

Rangkaian peristiwa Isra’ dan Mi’raj dimulai dari masjid ke masjid. Memperingati peristiwa ini seharusnya mendorong kaum muslimin mengorientasikan dirinya ke masjid, ikut memakmurkan tempat ibadah itu dengan menjadi jamaah yang aktif. Dalam risalah Islam, ‘masjid’ memang mempunyai fungsi dan peranan tertentu yang melambangkan masyarakat Islam bukan perseorangan yang tanpa ikatan. Masjid melambangkan Islam sebagai Agama ‘jamaah’. Idealnya bukan hanya dalam shalat, tetapi di luar shalat juga berlangsung hidup berjamaah.

Artinya, masjid bukan sekadar untuk shalat berjamaah, fungsi masjid lebih luas dari itu. Hal ini dapat dimengerti dari tindakan Rasulullah sesampainya di Masjidil Haram sepulang Mi’raj untuk mengajak masyarakat meyakini kebenaran perjalanannya. Atau ketika Nabi sampai di Yatsrib sewaktu hijrah.

Pertama kali yang beliau bangun adalah mendirikan masjid. Dari masjid itulah masyarakat Islam disusun, nilai-nilai Islam dihidupkan dan dilembagakan dalam kehidupan bersama. Fungsi masjid yang demikian itu lebih ditegaskan di masa Khalifah Abu Bakar, bahkan disertai pesan, ”Jika sekiranya datang cengkeraman dari pihak yang batil dan timbul perlawanan dari pihak yang hak (perlawanan yang tidak akan sia-sia lantaran kebajikannya), maka di kala itu, di masjidlah tempat kamu menetap dan dari Alquranlah kamu mencari petunjuk.” (Pidato Khalifah Abu Bakar). Bagi Khalifah Abu Bakar, masjid harus difungsikan sebagai pusat ‘reintegrasi umat’.

Di negeri kita ini, citra kemajuan umat baru ditandai oleh banyaknya bangunan fisik masjid. Itu saja tentu belum cukup. Masjid yang benar-benar makmur (difungsikan sebagaimana seharusnya) masih bisa dihitung dengan jari. Banyak masjid baru berfungsi pada saat shalat Jumat berlangsung. Hmmm Kadang-kadang keberadaan masjid malah tidak bersambung dengan kehidupan riel masyarakat tetangga masjid, sehingga ia ibarat Kuburan Cina yang pakai marmer berukir tapi tak bernyawa di dalamnya. Hmmm

Untuk itu sudah saatnya dimunculkan gerakan cinta masjid yang diprogram secara nasional. Kalau perlu melalui Keppres agar lebih efektif. Dan ini bukan tidak mungkin, mengingat kepeloporan Presiden Soeharto dalam membangun ribuan masjid menghendaki tindak lanjut usaha pemakmurannya. Secara tradisi pun pernah berlangsung dalam tata kota kekuasaan di Jawa dalam lambang menyatunya Masjid, Keraton, dan Alun-alun. Firman Allah: Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat dan tidak merasa takut melainkan kepada Allah; mudah-mudahan mereka itu makin terpimpin kepada kebenaran.” (QS At-Taubah: 18).

Dengan gerakan yang bersifat nasional Yess!, pemakmuran masjid akan mampu menyentuh bukan saja pada aktivitas ibadah shalat berjamaah, melainkan juga dapat kita harapkan masjid akan mampu menjadi sentra pembinaan umat baik keimanan dan ketaqwaannya maupun kehidupan sosial ekonominya. Gerakan koperasi, misalnya, dapat lebih dipercepat perkembangannya melalui masjid-masjid. Wallahu A’lam.

sumber: republika
http://www.republika.co.id/berita/60722/Masjid

Jadikan Masjid Tempat Memberdayakan Umat

PEMBERDAYAAN masjid selama ini kurang begitu diperhatikan. Padahal, masjid pun mempunyai peran penting dalam membangun kesejahteraan masyarakat. Selama ini peran masjid hanya sebatas tempat beribadah. Jika masjid di Kota Bogor berdaya, maka masyarakatnya akan sejahtera.

Karena itu perlu ada upaya untuk menjadikan masjid-masjid yang ada di Kota Bogor sebagai masjid pemberdayaan umat. Artinya, masjid yang bisa meningkatkan kualitas ritual ibadah, dan meningkatkan potensi ibadah muamalah.

Ketua wilayah DMI Jawa Barat H. R. Maulani mengatakan, masjid harus tempat jihad sosial. Sebab, misi masjid yaitu hayyaa`lasholah dan hayya`alal falah. Artinya melalui masjid, meningkatkan kualitas ibadah ritual dan melalui masjid pula untuk meraih kemenangan dalam membebaskan kemiskinan, kebodohan dan kedangkalan Iman.

“Kalau masjid-masjid yang ada sudah menjadi masjid pemberdayaan umat, yang berorientasi kepada IPM (Indek Pembangunan Manusia), maka insya Allah masyarakat Kota Bogor akan sejahtera,” ungkap Maulani ketika melantik dan mengukuhkan pengurus DMI Kota Bogor masa bakti 2009-2014 di Masjid Raya Bogor Jum`at (27/3) siang.

Menurut Maulani, kalau masjid dikelola dengan baik, maka akan menjadi suatu kekuatan, untuk meningkatkan IPM dari berbasis masjid. Karena itu DMI harus bisa menuntaskan dan memberdayakan jaringan DMI sampai ke tingkat ranting-ranting yang ada di Kelurahan, untuk mendorong masjid-masjid yang ada sebagai basis pemberdayaan umat dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

700 masjid

Wali Kota Bogor Diani Budiarto mengatakan, peran DMI dalam pengelola masjid memiliki tugas yang cukup berat, karena jumlah masjid yang ada di Kota ada sekitar 700 masjid belum termasuk musala. “Di Kota Bogor ada 700 masjid. Kalau apa yang diungkapkan Ketua DMI Jawa Barat tadi direalisasikan, tentunya akan membantu pemkot dalam upaya pengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan umat,” tutur Diani.

Diani pun mengutarakan hasil kunjungannya ke Istambul Turki beberapa waktu lalu. Ternyata, kata dia, negara Turki dengan jumlah penduduk sekitar 15 juta, masjidnya hanya berjumlah 2.600 masjid, dan gereja berjumlah 200.

“Kalau dibandingkan dengan Kota Bogor yang berpenduduk hampir satu juta jumlah masjidnya sudah mencapai 700 masjid. Sedangkan Turki dengan penduduk 15 juta, hanya ada 2.600 masjid. Jadi, jelas, kalau melihat dari perbandingan dengan jumlah penduduknya masjid di Kota Bogor sudah cukup banyak,” ungkap Diani.

Oleh karena itu, lanjut Diani, dengan jumlah masjid yang sudah banyak menjadi garapan yang sangat berat bagi DMI untuk menyamakan konsep dan persepsi sehingga masjid ukhwah dan pusat syiar Islam.

“Sejak tahun 2004, di Kota Bogor sudah dicanangkan program Imaratul Masajid atau pemberdayaan masjid, dengah berbagai langkah yang telah dilakukannya,” jelasnya.

Menurut Diani, langkah yang telah dilakukan selama lima tahun dalam program pemberdayaan masjid antara lain telah mengirimkan pelatikan-pelatihan para pengurus DKM, dan memberangkatkan para imam masjid untuk melaksanakan ibadah haji.

Namun diakui Diani, belum sepenuhnya membuahkan hasil yang diharapkan. Oleh karena itu menjadi tugas DMI untuk lebih meningkatkan peran-peran masjid. “Kita juga sudah memiliki program masjid online, dan sampai saat ini sudah 51 masjid yang online. Walaupun, diakuinya bahwa dari 51 masjid online belum memanfaatkan sarana yang ada, karena hal keterbatasan dari sumber daya manusianya,” jelasnya. (PK-3)***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com

Sukseskan Gerakan Back To Masjid … « 1 2 3 4 »

Sukseskan Gerakan Back To Masjid … « 1 2 3 4 »

Menata Kembali Manajemen Masjid Indonesia

Menata Kembali Manajemen Masjid Indonesia

Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At Taubah: 9: 18).

Kita sering mendengar bahwa umat Islam masih mengabaikan masjidnya sehingga dimana-mana masjid terlihat kosong pada saat shalat fardhu, khususnya shalat Subuh.

Masjid hanya tampak penuh saat shalat Jum’at. Ini menjadi bukti bahwa upaya memakmurkan masjid masih sangat rendah. Namun demikian, hasrat membangun masjid masih tetap tinggi sehingga masjid terus dibangun dimana-mana.

Masih juga terdapat beberapa fenomena penyimpangan yang sangat mendasar dalam pengelolaan masjid di Indonesia. Pertama, pengelolaan yang tanpa mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Kedua, ketidakdisiplinan dalam berjamaah, terlihat dengan pakaian yamg beragam bentuk dan berwarna-warni pada saat shalat Jum’at. Padahal Rasulullah menyontohkan dengan memakai pakaian polos terutama putih. Selain itu, kerapian dan kebersihan masjid seringkali tidak terjaga dengan baik. Kertiga, banyak orang kaya yang membiarkan rumah Allah, tempat mereka bershalat, lebih sederhana daripada rumah dan kendaraannya.

Krisis multi-dimensi berkepanjangan yang melanda negara kita haruslah menjadi momen untuk melakukan introspeksi. Mungkinkah salah satunya terkait dengan kelalaian kita dalam mengelola masjid yang belum benar? Ini merupakan persoalan klasik dan sangat mendasar sehingga perlu diatasi melalui pendekatan secara klasik dan mendasar pula.

Klasifikasi, registrasi dan akreditasi masjid

Kini terdapat banyak pedoman baku (manual) manajemen masjid. Namun, ternyata belum mencakup hal-hal sebagaimana yang terjadi di zaman Rasulullah. Karena itu perlu dilakukan berbagai penyempurnaan terhadap manajemen masjid.

Masjid memiliki makna besar dalam kehidupan umat Islam, baik fisik, emosional maupun makna spiritual. Pemahaman mengenai masjid harus benar-benar terkait dengan unsur ibadah, baik yang menyangkut hablumminallah maupun hablumminanas.

Bagi umat Islam, masjid dapat dikategorikan dalam dua jenis, yaitu Masjid Allah yang dibangun semata-mata untuk mendapatkan ridlo Allah dan Masjid Riya yang dibangun bukan atas dasar ketakwaan dan niat bukan karena Allah. Ciri masjid kedua ini antara lain untuk menimbulkan kemudharatan bagi umat Islam, memecah belah antara orang mukmin dan didirikan seolah-olah untuk kebaikan.

Masjid adalah rumah Allah. Karena itu, membangun masjid harus diawali dengan niat yang lurus dan suci, untuk mendapat ridlo Allah semata. Sehingga masjid yang dibangunnya menjadi tempat perlindungan umat Islam, pembangunan kualitas akhlaq, iman dan taqwa kepada Allah SWT.

Kehadiran masjid di satu tempat perlu dibuat klasifikasinya sehingga akan terjalin ukhuwah antara masjid di daerah yang memiliki keterbatasan dengan masjid yang berada di ibu kota provinsi ataupun pusat. Klasifikasi masjid dapat dilakukan di antaranya berdasarkan luas masjid dan daya tampung jamaah serta ketersediaan fasilitas pendukung dan usaha pemakmuran masjid.

Klasifikasi ini berdasarkan lokasi, status, dan fasilitas yang dimiliki masing-masing kategori masjid tersebut. Bahkan seperti halnya di Malaysia, status masjid juga menunjukkan senioritas ranking Imam Masjidnya, karena status mereka adalah pegawai kerajaan.

Dari model di atas, masjid di Indonesia dapat diklasifikasikan dengan memberikan tipe bagi masing-masing strata masjid. Yaitu, tipe A untuk Masjid Negara, tipe B untuk Masjid Akbar, tipe C untuk Masjid Raya, tipe D untuk Masjid Agung, tipe E untuk Masjid Besar, tipe F untuk Masjid Jami’, dan tipe G untuk Masjid RW.

Masing-masing tipe masjid dapat ditentukan akreditasinya. Misalnya, untuk Masjid Kecamatan atau Masjid Besar dengan tipe E. Maka dapat diklasifikasikan menjadi masjid tipe E satu bintang (E 1B atau E*) sampai dengan tipe E lima bintang (E 5B atau E*****). Klasifikasinya ditentukan berdasarkan ketersediaan fasilitas yang sekaligus menunjukkan kualitas masjid tersebut. Sehingga masjid dengan tipe E 1B dapat meningkat menjadi tipe E 2B dan seterusnya sampai menjadi masjid tipe E 5B.

Fasilitas masjid pada umumnya dapat digolongkan sebagai fasilitas utama dan fasilitas pendukung. Yang termasuk fasilitas utama adalah mimbar, mihrab, tempat adzan, tempat wudlu, kamar mandi, toilet, menara dan sebagainya. Adapun fasilitas pendukung adalah kantor pengurus, majelis taklim, perpustakaan, poliklinik, baitul mal, UPZ, Asy Syifa  dan lain-lain. Semakin baik fasilitas dan semakin disiplin dalam mengelolanya, maka akan memperoleh penilaian dengan akreditasi yang semakin tinggi.

Dalam rangka melakukan penataan, pengorganisasian maupun pembinaan terhadap masjid, maka setiap masjid harus mencatatkan keberadaannya kepada yang berwenang, yaitu Dewan Masjid Indonesia yang berada di Masjid Istiqlal atau dewan masjid daerah yang berdomisili di masjid provinsi.

Dengan pencatatan ini, masjid akan mendapatkan Nomor Pokok Masjid (NPM) yang dikeluarkan secara terpusat oleh Dewan Masjid Indonesia. Nomor ini terdiri atas 11 digit yang mencantumkan identifikasi strata, tipe, dan lokasi masjid.

Registrasi jamaah

Registrasi jamaah masjid sangat diperlukan sebagai dasar untuk membina jamaahnya. Contoh pelaksanaan registrasi jamaah sebenarnya sudah dilakukan pada zaman Rasulullah SAW, walaupun dengan cara sangat sederhana. Hal ini dapat terlihat dari Hadis Nabi sebagai berikut:
“Ketika Nabi akan shalat maka terlebih dahulu melihat ke arah jamaah, ketika meneliti shafnya dan beliau mengetahui ada seorang jamaah yang biasanya hadir tidak ada dalam barisan shaf itu, maka Nabi bertanya: Kemana si fulan? Salah seorang jamaah menyampaikan bahwa yang bersangkutan sakit. Kemudian setelah menunaikan shalat, Rasulullah mendatangi rumah si fulan untuk takziyah.”

Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi sangat perhatian terhadap jamaahnya. Karena itu, pengurus atau imam masjid selayaknya mengikutinya. Bahkan setelah shalat Jum’at, dari atas mimbar Nabi selalu menanyai jamaahnya: “Siapa yang hari ini ada kesulitan atau kekurangan?

” Kemudian Nabi bertanya lagi apakah ada yang telah diberi rezeki Allah dan mempunyai kelebihan sehingga dapat membantu mereka yang kesulitan dan kekurangan itu? Dengan cara ini, problematika umat dapat langsung diselesaikan. Selaiknya bila contoh Nabi tersebut dapat kita praktikkan di tanah air.

Episode yang diceritakan dengan sederhana itu mengandung makna sangat mendalam dan mendasar. Selaiknya bila pengurus masjid melakukan registrasi jamaahnya, mengetahui dan peduli keadaan mereka, dan melakukan silaturahmi untuk mengatasi persoalan mereka.

Mengenali setiap jamaah bukanlah hal yang mudah, terlebih bagi masjid besar. Perlu dibuat suatu sistem yang memudahkan pekerjaan itu dan sekaligus membangun silaturahmi di antara mereka. Registrasi juga dimaksudkan untuk menumbuhkan keterkaitan jamaah dengan masjid. Setiap jamaah diberikan nomor keanggotaan dengan Kartu Jamaah Masjid (KJM).

KJM akan terkait dengan Nomor Pokok Masjid (NPM)nya karena dikeluarkan oleh masjid yang bersangkutan. Jamaah mendapatkan KJM secara cuma-cuma setelah mengajukan permohonan kepada Pengurus Masjid. Memiliki KJM tertentu bukan berarti ia hanya boleh shalat di masjid tersebut, melainkan agar jamaah lebih peduli dengan persoalan yang terjadi di masjidnya. Juga dalam rangka memakmurkan masjid.

Memakmurkan masjid

Masjid sejak zaman Nabi Muhammad SAW telah dijadikan pusat kegiatan umat Islam. Dari masjid, Rasulullah membangun umat Islam dan mengendalikan pemerintahannya. Sebagaimana dinyatakan dalam surat At Taubah 18, mereka yang memakmurkan masjid adalah orang yang mendapat petunjuk dari Allah.

Meski demikian, saat ini masjid masih belum diberdayakan secara proporsional bagi pembangunan umat Islam. Memang tidak mudah mengajak umat untuk kembali ke masjid seperti zaman Rasulullah. Persepsi yang berkembang adalah bahwa masjid hanya untuk kegiatan spiritual belaka, sehingga umat Islam pun tercerai berai dalam persaudaraannya.

Memakmurkan masjid memiliki arti yang sangat luas. Yaitu, menyelenggarakan kegiatan yang bernilai ibadah. Di antara kegiatan yang tergolong memakmurkan masjid adalah Pengelolaan Masjid, Majelis Taklim, Taman Pendidikan Alquran, Remaja Masjid, Perpustakaan, Koperasi, Poliklinik, Unit Pelayanan Zakat (UPZ), Konsultasi, Asy Syifa, Bantuan Hukum, Bursa Tenaga Kerja, Sekolah, Bank Syariah, BMT, BPRS, Kantor Pos, Penyelenggaraan Haji dan Umroh, Rumah Sakit, Toko Buku, Pusat Informasi, Wartel, dan sebagainya.

Selanjutnya tingkat kemakmuran masjid sangat dipengaruhi oleh kepengurusan masjid yang ada. Tanpa takmir yang amanah dan taqwa, masjid nyaris sepi dari berbagai kegiatan ibadah. Masjid seringkali menjadi simbol kebesaran Islam, namun jauh dari kegiatan memakmurkannya.

Upaya pemakmuran masjid juga dapat dilakukan melalui suatu aliansi antara masjid dengan Baznas/Bazda dan Babinrohis Pusat/Daerah. Adanya UU No 38 tahun 1999, pemerintah telah memfasilitasi berdirinya Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Badan Amil Zakat Daerah (BAZDA) serta LAZ (Lembaga Amil Zakat).

Untuk mewujudkan istem penyelenggaraan zakat maka Baznas maupun Bazda dapat membentuk Unit Pengumpul Zakat (UPZ) yang berada di masjid maupun unit-unit usaha. Kerja sama antara masjid dengan Badan Amil Zakat dan Badan Pembina Rohani Islam (BABINROHIS) yang ada di Departemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen, BUMN dan swasta secara berjamaah, diharapkan dapat mengangkat harkat umat melalui program pengentasan kemiskinan dan peningkatan pemberdayaan ekonomi. Kerja sama ketiga pilar itu akan menjadi suatu kekuatan yang dahsyat dalam pemberdayaan umat.

Dalam hal ini masjid akan bertindak selaku pengumpul dan penyalur zakat dan infaq. Pengurus masjid dituntut mengetahui kondisi jamaahnya, siapa saja yang digolongkan mampu (muzakki) dan siapa yang harus dibantu (mustahiq).

Untuk itulah perlunya dilakukan reposisi dan penataan kembali masjid.

Dengan demikian akan sangat dimungkinkan terlaksananya distribusi zakat secara transparan dan menyeluruh, seluruh masjid atau jamaah mempunyai kesempatan sama, para pengemis tidak akan lagi berkeliaran di berbagai tempat karena sudah diurus oleh masjid. Di samping itu, tidak akan terjadi duplikasi bantuan karena setiap orang hanya terkait dengan satu masjid dan jamaah yang tidak memerlukan bantuan harian akan diberikan bantuan yang bersifat produktif.

*) Penulis adalah direktur utama PT Taspen (Persero) dan ketua umum Fokkus Babinrohis Pusat.

Sumber:
http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=5&id=144431&kat_id=105&kat_id1=147&kat_id2=291

Kreativitas Takmir Masjid Perlu Ditingkatkan

Kreativitas Takmir Masjid Perlu Ditingkatkan

Responden sangat mendambakan masjid yang semarak oleh kegiatan-kegiatan non keagamaan.

Pada masa kenabian dulu, masjid menjalankan multi-fungsi. Masjid merupakan pusat kegiatan umat, termasuk sebagai pusat pemerintahan. Di masjid strategi perang dibicarakan, begitu juga simulasi ketangkasan prajurit sebelum maju ke medan perang.

Masjid menjadi tempat pelantikan para duta Islam. Masjid memiliki baitul maal , lembaga pengelola keuangan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya kaum dhuafa.

Masjid juga merupakan pusat kajian keagamaan dan berbagai masalah non keagamaan. Pendek kata, segala urusan sosial kemasyarakatan dikendalikan dari masjid.

Pada konteks kekinian, masjid masih banyak didirikan. Di Indonesia, dari data Departemen Agama tahun 2004, jumlah masjid sebanyak 643.834 buah, meningkat dari data tahun 1977 yang sebanyak 392.044 buah. Diperkirakan, jumlah masjid dan mushala di Indonesia saat ini antara 700 hingga 800 ribu buah.

Meski begitu, ada kecenderungan masjid masa kini justru jauh dari fungsi sejatinya. Melihat persoalan ini, survei yang diselenggarakan Litbang Republika secara khusus juga ingin mengetahui kegiatan apa saja yang ramai terselenggara di masjid, kesadaran umat terhadap fungsi masjid, dan penilaian atas arti penting peran takmir masjid.

Sebanyak 83,5 persen responden tidak sependapat jika masjid hanya digunakan sebagai tempat ibadah  makhdhoh saja. Bahkan sebanyak 84,2 persen memandang perlu dan bahkan sangat perlu masjid digunakan sebagai tempat kegiatan non-keagamaan (yang tentu saja berdimensi keagamaan).

Data ini memperkuat kebutuhan masjid untuk digunakan sebagai pusat pembinaan umat yang selama ini tampaknya masih jauh dari optimal. Dengan kata lain, masjid masih belum banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan kegiatan non keagaamaan.

Juga tersirat dari sini, bahwa masjid sangat kurang memerhatikan kondisi sosial masyarakat sekitarnya serta segala kebutuhan material-spiritual mereka.

Dalam survei ini tidak terbukti jika tidak optimalnya fungsi masjid disebabkan kurangnya sarana yang dimiliki masjid. Sarana masjid memadai diakui sebanyak 62,4 persen responden, hanya 18,5 persen responden berpendapat fasilitas masjid kurang layak.

Ini berarti fasilitas masjid masih banyak yang sia-sia. Kendati masjid memiliki sarana memadai, aktivitas masjid kurang menarik dinyatakan sebanyak 81,4 persen responden. Ini mengindikasikan lemahnya manajemen takmir masjid dalam mengelola kegiatan.

Mengenai kemampuan dan kreativitas takmir masjid, sebanyak 53,2 persen responden mengakui takmir masjid memilikinya, namun sebanyak 46,8 persen berpendapat sebaliknya. Artinya adalah masih cukup banyak takmir masjid yang belum memiliki kemampuan dan kreativitas dalam hal ketakmiran.

Boleh jadi ini yang menjadi sebab masjid kurang menarik di mata jamaahnya. Bahkan takmir yang punya kemampuan dan kreativitas pun masih belum optimal menunjukkan kinerja ketakmiran yang baik, sebagaimana ditunjukkan dalam perbandingan kemampuan dan kreativitas takmir yang tak berbanding lurus dengan kegiatan masjid yang menarik (53,2 persen : 81,4 persen).

Dari sini, dapat disimpulkan bahwa pada umumnya masjid telah digunakan sebagai tempat ibadah  mahdhoh (shalat fardhu berjamaah dan shalat Jumat). Ini jelas masih jauh dari fungsi masjid yang sesungguhnya. Dan responden mengidamkan masjid yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah belaka, melainkan juga pusat kegiatan non keagamaan.

Jadi, fungsi masjid perlu dioptimalkan utamanya dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Maka itu, takmir masjid perlu memiliki kemampuan manajemen ketakmiran, termasuk memiliki data jamaahnya dengan segala kebutuhan dan harapan mereka terhadap masjid.

Kurang optimumnya fungsi masjid dan rendahnya kinerja takmir masjid bukan disebabkan masjid tidak memiliki sarana/fasilitas yang layak dan memadai, melainkan lebih oleh rendahnya kemampuan dan kreativitas takmir dalam mengelola kegiatan.

Untuk itu, takmir masjid perlu memiliki kemampuan dan kreativitas yang mumpuni untuk diorientasikan bagi kemakmuan masjid dan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Ini menjadi tantangan bagi para takmir masjid untuk unjuk kreativitas dalam menampilkan agenda dan program kerjanya.

sumber:
http://www.republika.co.id/berita/59972/Kreativitas_Takmir_Masjid_Perlu_Ditingkatkan


Artikel – Dewan Masjid Indonesia (DMI)
http://www.republika.co.id/halaman/195/232AYO..BACK TO MASJID Yiihaaa!
http://c.1asphost.com/sibin/detail.asp?Id=157

Manajemen Masjid sebagai Pusat Dakwah dan Aktivitas Umat
http://myquran.org/forum/index.php/topic,11068.0/all.html

Sukseskan Gerakan Back To Masjid … « 1 2 3 4 »

Tarmizi Taher, ‘Masjid Pusat Pembinaan Ekonomi Umat’

Tarmizi Taher, ‘Masjid Pusat Pembinaan Ekonomi Umat’
By Republika Newsroom
Jumat, 26 Desember 2008

Selama tiga hari, Jumat-Ahad, 25-27 Agustus 2006, Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) menggelar Muktamar V di Hotel Grand Cempaka Cempaka Putih Jakarta Pusat. Selain merancang program baru serta melaporkan kegitan pengurus lama, Muktamar V DMI juga berhasil memilih ketua umum DMI yang baru untuk masa periode 206-2011. Mantan Menteri Agama di era Presiden HM Soeharto yang juga dikenal sebagai pendiri Center for Moderate Muslim (CMM), Dr Tarmizi Taher, akhirnya terpilih untuk memimpin DMI periode ini.

Kepada Damanhuri Zuhri dari Republika, Tarmizi melontarkan ide dan gagasan tentang kemana gerbong DMI akan dibawa. ”Di masjid itu kita jadikan sentral dari pembinaan agama, pembinaan iman, pembinaan ibadah, pembinaan ekonomi, dan pendidikan,” ujarnya memberi bocoran program kerjanya. Berikut ini petikan wawancaranya:

Apa peran masjid ke depan menurut Anda?

Kita akan membawa masjid berfungsi sebagaimana seharusnya berfungsi. Masjid itu sentral dari pembinaan agama, pembinaan iman, pembenahan idadah, pembinaan ekonomi, dan pendidikan. Masjid bukan hanya untuk ibadah saja.
Masjid itu di dalam hadis adalah baitut taqwa (rumah untuk mencetak diri agar bertakwa). Banyak jaminan Tuhan kepada orang yang hatinya terpaut ke masjid. Tapi, untuk melaksanakan agar orang hatinya tergantung ke masjid, jelas tidak gampang pada zaman globalisasi ini. Makanya kita sebagai pengurus, pembimbing, dan pemimpin umat Islam mesti yakin bahwa ayat-ayat langit ini masih sangat kita gunakan. Kita masih cinta kepada agama, kita cinta kepada Nabi kita menyembah hanya kepada Allah.

Bentuk kongkrit kegiatan yang dilakukan agar masjid benar-benar menjadi sentral pembinaan ekonomi umat seperti apa?

Ya misalnya dengan membuka BMT (baitul maal wat tamwil) di masjid-masjid, sehingga peredaran uang termasuk dari dana infak dan shadaqah setiap Jumat maupun dana zakat lainnya bisa digerakkan di BMT. Dengan adanya kegiatan BMT yang lebih besar lagi, para pedagang kecil yang ada di sekitar masjid bisa digerakkan. Kalau semangat ini sudah berjalan, bukan tidak mungkin ekonomi masyarakat akan bergerak. Dan, dampaknya kepada masjid sendiri. Ekonomi masyarakat yang bergerak akan mendorong mereka untuk berinfak atau berzakat ke masjid. Yang tidak kalah pentingnya, dalam manajemen modern, pengurus masjid seharusnya tidak memegang uang cash melainkan menyimpannya di bank-bank maupun lembaga keuangan lainnya. Begitu memerlukan dana, mereka tinggal mengambilnya melalui cek. Jadi, manajemennya sangat teratur.

Dalam pengamatan Anda, apakah peran masjid selama ini sudah optimal terutama di bidang ekonomi?

Masjid itu kan mestinya kita rencanakan programnya selama 52 minggu. Kalau kita bikin lima tahun, 260 kali. Kita mesti bagi-bagi. Di mana porsinya iman? Di mana porsinya ibadah? Selain itu, mana fungsinya shalat, mana fungsinya puasa, fungsinya zakat, fungsinya ibadah haji? Yang tidak boleh kita lupakan, doa kita kan mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat. Apa yang dunia? kaadal faqru an-yakuuna kufran (kemiskinan itu hampir menyebabkan kekafiran).
Oleh karena itu, manajemen masjid juga harus membahas masalah ekonomi. Masjid harus membuat ketrampilan sehingga ekonomi umat Islam terutama yang berada di sekitar masjid akan meningkat. Menjaga umat agar tak menjadi kafir dengan menghindarkan mereka dari kemiskinan, merupakan peran penting yang harus diambil para pengurus masjid.
Rasulullah SAW tidak hanya melakukan ibadah shalat di dalam masjid bahkan menerima diplomat pun di dalam masjid. Nabi menerima diplomat di masjid. Nabi menasehati orang di masjid. Jadi segala macam hal yang kita anggap dunia katakanlah ekonomi, dilakukan di dalam masjid. Bagaimana kita mau naik haji, kalau kita tidak punya duit? Ekonomi terkait dengan ibadah, bagaimana kita akan berpakaian dengan baik, kalau ekonomi kita tidak baik? Sudah tidak jamannya lagi umat Islam terus meminta-minta. Duit masjid harus disimpan di bank. Kalau mau digunakan pakai cek. Ini soal manajemen.

Ke depan menurut Anda, apa problem yang paling besar yang harus dibereskan dari masjid?

Manajemennya. Manajemen masjid secara modern. Bahwa di negara Barat, manajemen gereja diatur oleh mereka secara modern dengan beralatkan komputer, punya website, e-mail. Kita gunakan itu sebagai alat dakwah. Sehingga orang-orang yang menjelek-jelekan Islam kita bisa hadapi dengan sarana modern ini.

Jadi, kita membuat network antara masjid ini akrab. Dukung-mendukung, kita sebarkan khotbah-khotbah melalui e-mail, web site, perkembangan Islam teratur melalui teknologi modern. Kita gunakan juga masjid untuk mempersiapkan anak-anak kita menghadapi ujian akhir.

Ada kemungkinan ke depan DMI dibawa ke tingkat internasional?

Tentu saja. Justru pro aktif kita yang mendatangi mereka. Paling tidak kita akan menjalin dengan negeri jiran seperti Malaysia, Singapura, bahkan dengan Australia, Selandia Baru, dengan mengirim dai.

Tidak repot mengelola 700 ribu masjid?

Kita akan mengadakan otonomi daerah kepada masjid-masjid itu.

Bentuk konkritnya?

Kita di Indonesia ini semuanya terlampau tersentral, semua ada di pusat. Kasihan presiden. Semua peserta demonstrasi minta ketemu presiden. Jadi, negara ini pemimpinnya hanya presiden. Berarti menteri-menteri yang lain kerja apa? Jadi, seharusnya di daerah-daerah kepala daerahnya yang bertanggung jawab. Pengelolaan masjid juga begitu. Kita akan galakkan back to mosque (mari kita kembali ke masjid). Kita akan membina umat menjadi manusia yang bertakwa di masjid. Kita akan membina umat menjadi manusia yang berdaya secara ekonomi juga di masjid.

http://www.republika.co.id/berita/22760/Tarmizi_Taher_Masjid_Pusat_Pembinaan_Ekonomi_Umat

Ketua MUI: Hampir Semua Masjid Mubadzir

Ketua MUI: Hampir Semua Masjid Mubadzir
By Republika

MALANG – Ketua Majelis Ulama Islam (MUI) KH Kholil Ridwan menilai hampir semua masjid yang ada di Indonesia mubadzir. Penilaian tersebut disampaikan KH Kholil Ridwan ketika Peresmian Masjid Baitur Rohman dan Silaturahmi dengan Para Mualaf Bromo, Muslim Lereng Gunung Semeru, Kawi-Bromo serta minuritas Muslim Pinewen, Kabupaten Malang, yang digelar Yayasan Mujahidin di Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malangm, Jawa Timur Ahad (16/11).

”Kita harus menyadari bahwa banyak masjid di Indonesia yang mubadzir. Padahal, orang yang senang  terhadap barang-barang  mubadzir itu berarti temannya setan,” jelas KH Kholil Ridwan kepada Republika. Lantas dia menjelaskan indikator masjid-masjid yang dinilai mubadzir. Menurut dia, masjid yang mubadzir itu sepi kegiatan. Terutama, ketika melaksanakan sholat lima waktu. Selama ini, kata dia, masjid yang dipakai untuk melaksanakan ibadah sholat lima waktu itu ratarata hanya berisi dua shof saja.

Sementara pada waktu-waktu selain pelaksanaan ibadah sholat lima waktu sepi. Hanya pada saat hari Jum’at, ketika orang muslim menunaikan ibadah sholat jum’at saja masjid terisi penuh. ”Selebihnya, kan tidak. Itu berarti mubadzir,” jelasnya. Kondisi masjid yang semacam itu, kata dia,  dialami hampir seluruh masjid yang ada di Indonesia. Menurut dia, tidak hanya di desa, tapi kota juga banyak yang sepi kegiatan. Bahkan, saat pelaksanaan ibadah sholat lima waktu, hanya  terisi rata-rata dua shof.

Menurut dia, ketika jaman Nabi Muhammad SAW, jika ada masjid yang mubadzir karena tidak termanfaatkan secara optimal, langsung dibakar. Bahkan, Nabi Muhammad sendiri yang memimpin untuk melakukan pembakaran terhadap masjid yang dinilai mubadzir itu. Makanya, kata dia menceritakan ketika jaman Nabi Muhammad, tidak ada masjid yang mubadzir. Hampir semua masjid terisi penuh, terutama ketika masuk waktu sholat. Selain it, masjid juga dijadikan sebagai pusat dakwah, pusat kegiatan termasuk ekonomi. Sehingga, masjid itu juga dijadikan sebagai pusat bisnis atau pasar.

Agar masjid di Indonesia yang jumlahnya jutaan tidak mubadzir, terang dia,  harus diisi dengan berbagai kegiatan. Dia contohan, seperti mernjadikan masjid sebagai pusat kegiatan islam (Islamic Center). Sehingga, tidak menjadi temannya iblis.

”Mari kita kembali ke masjid. Jadikan masjid sebagai islamic center. Tinggalkan itu Senayan. Sebab, kalau tidak kembali ke Masjid, tunggulah kehancurannya. Kalau perlu, bangun pasar, rumah sakit  dan lain sebagainya di dekat masjid. Sehingga, masjid benar-benar menjadi pusat kegiatan umat Islam,” jelasnya sembari menambahkan bila MUI akan menggalakkan sosialisa untuk kembali ke masjid.

Hal senada juga diungkapkan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Ustad Ir Andri Kurniawan Mag. Menurut Ketua Yayasan Mujahidin ini, selama ini memang banyak masjid yang mubadzir. Alasannya, masjid tidak lagi dijadikan sebagai pusat kegiatan dakwah.

Makanya, dia berjanji akan memakmurkan masjid Baitur Rohman yang dibangun di Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang itu. ”Masjid ini nantinya akan menjadi markas dakwah meskipun lokasinya tidak dekat dengan pemukiman warga,” katanya. Dia optimistis, masjid yang dibangun di atas lahan seluas 650 meter per segi untuk membentengi umat dari program agama lain ini bakal makmur. Alasannya, setelah dijadikan markas dakwah, banyak agenda kerja yang bakal digarap melalui masjid tersebut.

Di antara proyek dakwah itu dia sebutkan seperti pembinaan panti asuhan dan pembinaan muslim minoritas di Pinewen, pembinaan mini islamic snter di Kalipare, lereng gunung Semeru, Kawi dan Bromo. Selain itu, menjadi pusat pemibinaan Ponpes Mahasiswa sebagai pembina di Jalan Sigura-gura Malang, selain panti asuhan Arrohmah. Menurut dia, kalau markas dakwah itu sukses, ”Insyaa Allah Taman umat islam akan terbentengi dari berbagai upaya pemurtadan. Cita-cita kami  umat islam menjadi umat yang  madani, mawaddah wa rahmah lewat masjid. Amin,” jelasnya.

http://www.republika.co.id/berita/29924/Ketua_MUI_Hampir_Semua_Masjid_Mubadzir